Menara Jakarta & Twin Towers
Di Jakarta lagi dibangun Menara Jakarta, yang konon tinggi bangetttttt…. getu lho… Rasanya, ini bakal jadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Soalnya ketinggian menara ini bakal nyamain menara2 tinggi lain di dunia, termasuk KL Tower di Malay, Menara Shanghai, de el el… Konon, Menara Jakarta dibangun dengan tujuan untuk lebih mendekatkan bangsa ini pada Tuhan. Makin tinggi, makin deket ama Tuhan, kan?
Logikanya sih emang getu…. Tapi, semoga bukan untuk menyamai ‘tingginya’ Tuhan aja dech…
Taon 2001, menara Twin Towers yang jadi kebanggaan masyarakat kota New York dan Amrik, hancur berantakan setelah ditabrak dengan dua pesawat komersial yang membawa ratusan penumpang. Menara tinggi pujaan warga Big Apple tinggal kenangan.
Hari ini, banyak orang ingin menjadi tinggi dan lebih tinggi.
Tinggi secara harkat. Tinggi secara martabat. Tinggi secara finansial. Tinggi secara pangkat. Sepertinya itu bukan masalah jika dibarengi dengan makin tingginya akhlak. Tapi, sayangnya akhlak dan moral sepertinya udah jadi barang basi. Seiring dengan kehidupan post modernisme, maka banyak orang ‘buta’ dengan ketinggian mental dan sikap hidup.
Hari ini, kita perlu berkaca untuk ‘meninggikan diri’ kita dalam akhlak dan sikap hidup. Meninggikan iman kita pada Tuhan. Meninggikan mimpi kita untuk meraih cita-cita mulai seiring dengan rencana Tuhan.
Sweater Wants 2 B Free
15 April 2005
Jam 10 pagi, aku, Vlo dan Cie Lie Fee udah ada di Bandara Binaka, Nias. Rencananya pagi itu kami akan bertolak menuju Medan, setelah dua hari penuh bertugas di Pulau Nias.
Entah apa sebabnya, pesawat yang membawa kami terbang ke Medan ternyata baru landing jam 12 siang. Perjalanan ke Medan rencananya akan ditempuh selama 50 menit. Dalam pesawat tidak ada hal yang aneh. Semua berjalan biasa saja. Keherananku terjaga kala aku melongok arloji di pergelangan tanganku. "Lho, harusnya kan udah sampe di Medan?"
Pertanyaan itu terjawab. Suara dari cabin menjelaskan bahwa kami tidak akan mendarat di Medan karena alasan cuaca. Dengan ringan, suara itu kembali mengatakan bahwa kami tidak akan kembali ke Nias, melainkan mendarat di Pakanbaru, Riau. Artinya, kami harus melalui perjalanan selama 1 jam 15 menit. Again??? Oh no… Sejak dari Nias, aku memang terasa kurang enak badan. Berada di pesawat seolah jadi siksaan kecil bagiku.
Tapi aku gak protes. Aku diem dan mulai nanya ama Tuhan, "Kenapa koq brenti di Pakanbaru, Tuhan? Kan jauh?"
Gak ada respon. Hening. Hanya ada beberapa dengus kekesalan yang kudengar di beberapa arah.
Sebagai tanda permohonan maaf, pihak maskapai penerbangan memberi kami snack tambahan. Lewat satu jam, pesawat mendarat di Pakanbaru. Aku belum pernah menginjakkan kaki ke kota ini sebelumnya. Tetapi, kami juga tidak berani berjalan-jalan ke kota. Khawatir jika tiba-tiba kami dipanggil untuk naik pesawat.
Sebagai bagian dari ritual hidupku, aku selalu menyempatkan di ke rest room jika aku tiba di suatu tempat atau hendak bepergian. Itu mengamankan aku dari ribetnya cari rest room selama di perjalanan, meski aku tau di pesawat pun ada toiletnya.
Sebelum buang air kecil, aku menggantungkan sweater kesayanganku di pintu. Usai itu, aku kembali bergabung dengan Cie Lie Fee dan Vlo. Kami coba untuk berhenti di Pakanbaru dan mencari pesawat langsung ke Jakarta. Jadi, kami pikir, kami tidak perlu bermalam di Medan lagi. Tapi, usaha itu gagal. Pesawat dari Pakanbaru ke Jakarta sudah habis penerbangannya karena kami tiba di Pakanbaru sudah lewat pukul 4 sore.
Karena itu, kami memilih untuk mengisi perut. Tak sampai 20 menit, kami dipanggil untuk kembali menuju pesawat. Bergegas, aku membayar dan meninggalkan restoran kecil yang harga makanannya cukup menakjubkan itu.
Menjelang 200 meter menuju pesawat, aku baru sadar kalo sweater-ku tertinggal di toilet. Dalam pikiran, aku hendak kembali mengambilnya. Tetapi, aku juga takut tertinggal pesawat. Dari segi perhitungan waktu, emang gak mungkin buat aku untuk ngambil sweater itu. Sedikit kesal karena ketelodoranku sendiri, aku melangkahkah kaki terus ke pesawat. Tapi hatiku berkata lain: "Mungkin ada orang yang membutuhkan sweater itu."
Namun, jujur dalam hati, aku tidak rela kehilangan sweater itu. Bagiku, lebih baik jika aku sadar kehilangan ketika aku sudah berada di pesawat, berada di Medan atau di Jakarta, bahkan lebih bagus lagi, jika aku menyadarinya saat aku sudah berada di rumah. Aku menyesal karena aku menyadari kehilangan itu pada saat aku masih bisa mengambilnya.
Tak seorang pun tahu ketika aku menghempaskan tubuh dan jiwaku yang kecewa di kursi pesawat. Tak seorang pun tahu ketika tubuhku bergetar dan dadaku bergemuruh mendengar sebuah suara menyapaku lembut: "Tadi kau bertanya, mengapa harus berhenti di Pakanbaru?"
Tak seorang pun tahu tatkala kujawab lirih :"Ya!"
Tak seorang pun tahu tatkala jantungku berhenti berdetak sepersekian detik mendengar suara itu berujar : "Sekarang kau tahu jawabannya."
Ya, Tuhan!!! Ada seseorang yang membutuhkan sweater itu. Aku tidak tahu siapa orangnya. Memang aku tak perlu tahu. Orang itu juga tak tahu siapa pemilik sweater yang ditemukannya. Itu juga lebih tidak perlu. Aku dan dia tak akan pernah tahu… Tapi TUHAN tahu… TUHAN tahu semuanya…
Tak seorang pun tahu ketika aku bersyukur dengan keindahan cara-Nya.
Sweater itu ingin berganti pemilik… It just wants to be free…. as I did, when I flied accross the sky and the sea…