Filed under: Film
Ini emang film lama. Tapi, swear…. film yang dibintangi ama Keanu Reeves ama Al Pacino ini apik banget. Dari sisi cerita, alurnya yang mengejutkan, patut jadi catatan tersendiri. Tata suara dan efek gak bisa dibilang sembarangan, lho.
Film ini nyeritain tentang sosok pengacara muda (diperankan oleh Keanu Reeves)yang lagi naik daun di sebuah kota kecil. Keberhasilannya dalam mengurai kasus demi kasus di pengadilan membuat namanya melambung dan karirnya melejit tajam. Ketenaran namanya di kota kecil itu terdengar oleh kantor pengacara ternama di kota New York.
Singkat cerita, pengacara muda akhirnya menjadi rekanan dari pengacara besar itu (diperankan oleh Al Pacino). Banyaknya kasus membuat hubungannya dengan sang istri menjadi renggang. Ketika sang istri mulai merasa tidak nyaman dengan kemewahan mereka, karena komunikasi yang makin jarang, si pengacara seolah tidak peduli. Apalagi, dia mulai terpikat pada seorang wanita.
Ketika istrinya sakit karena depresi dan membutuhkan kehadirannya, di sinilah konflik mulai terbangun dengan rapi. Si pengacara senior mempersilakan pengacara muda ini untuk memilih sendiri, mana yang dikehendakinya. Pengacara muda ini tidak ingin kehilangan kesempatan besarnya untuk mendampingi seorang klien kaya raya. Maka, ia pun memutuskan untuk tidak mendampingi istrinya.
Ketegangan makin meregang urat leher tatkala sang istri memilih untk mengakhiri hidupnya di bawah sayatan pisau. Dengan amarah, pengacara muda ini menuding si pengacara senior menjadi biang keladi dari tewasnya sang istri.
Puncak konflik membawa kita larut dalam emosi ketika — dengan tenang — pengacara senior ini berkata, "Itu adalah pilihanmu. Kita semua punya kehendak bebas. Kamu memilih meninggalkan istrimu karena kamu tidak ingin kehilangan karirmu." Si pengacara senior, yang kemudian memperkenalkan diri sebagai ayah kandung pengacara muda itu, menambahkan, "Kesombongan adalah dosa besar yang paling disukai oleh Iblis. Kamu memilih hidup dalam kesombongan karena takut kehilangan posisimu."
Dalam keadaan terluka, si pengacara muda berkata, "Ok… free will. Kamu mau tahu pilihanku?"
Dengan sigap pengacara muda ini meraih pistol yang tergeletak di meja pengacara senior dan mengarahkan pelatuk senjata itu ke batok kepalanya. Dan. "Dhuarrr". Dengan iringan melodi yang menggetarkan, ia pun roboh. Si pengacara senior kehilangan orang yang diharapkan dapat memeluk kesombongan sebagai miliknya yang paling berharga.
Apakah ini menjadi ending dari film ini?
Pinjem aja VCD-nya. Udah ada koq. Yang pasti, gak bakal nyesel nonton film ini, karena kita akan belajar bagaimana menghargai hidup, memahami arti prestise, menguasai diri sendiri dan menghindari kesombongan. Karena seperti yang dikatakan oleh Iblis di akhir film, "Kesombongan adalah dosa yang paling disukai Iblis." Gak heran, kalo kita inget bahwa Lucifer jatuh karena kesombongannya, kan???