Filed under: Books
Saat di Jakarta minggu lalu, aku sempat main ke Pameran Buku.
Tidak seperti di Surabaya, pameran buku di Gelora Bung Karno kayak kebanjiran manusia. Jadilah aku dan Siswi terjepit. Untuk memilih buku, tak jarang kami kesulitan memindahkan tubuh. Heboh sekali.
Ketika berpindah ruang yang agak lega, Siswi mulai berburu stationery, kegemarannya. Aku sendiri terpekur berdiri di stand Kompas. Asyik sekali aku mengamati judul-judul buku yang terpajang di rak yang berdiri mengitari stand. Aku melihat ada buku berjudul Humanisme dan Kebebasan Pers: Peringatan 70 tahun Jakob Oetama. Tertarik??? Tentu. Beberapa bulan yang lalu, aku mengajar tentang topik ini di kelasku. Dan, tentu saja, buku ini akan menjadi bahan yang menyenangkan tahun depan.
Tapi, aku mengembalikan buku itu ke dalam rak. Kakiku melangkah. Siswi sudah berjalan di depanku. "Beli apa?"
"Ada buku bagus."
"Mana?"
"Nggak jadi."
"Kenapa? Beli aja. Bagus, kan?" Aku meringis mendengar motivasinya itu. Tubuhku berbalik arah. Dengan sigap, aku kembali ke stand Kompas dan meraih buku itu sambil menyenggol buku yang lain. Sontak mataku terarah pada buku itu. Judulnya :KALIMAT JURNALISTIK. Nah, buku ini bisa jadi bahan mata kuliah untuk semester ini. Kali ini tanpa pertimbangan. Kusambar saja dan … bayar dong…
Di saat luang, selama di Jakarta, aku mulai membuka lembar demi lembar halaman buku untuk hadiah ultah Pak Jakob. Ada ‘roh’ yang baru tatkala aku menelusuri kalimat demi kalimat yang terlarik di dalamnya. ‘Roh’ itu demikian hebat menguasai aku. Kukatakan pada Siswi, pimpinan redaksi Majalah Sangkakala, "Non, kamu harus baca buku ini." Dia mengangguk. Meski tidak segila aku, Siswi termasuk golongan orang yang suka baca. Namanya juga pimpinan redaksi….
Di Surabaya, aku membaca buku kedua. Kalimat Jurnalistik. Meski kesannya kayak text book, aku semangat saja. Alasannya hanya satu. Cari bahan untuk kuliah… hehehe… Tapi, saat aku baca buku ini, hmmmmm…. something special that I really need it. Si penulis adalah wartawan yang sangat dan teramat senior di Kompas. Membaca pengalaman dan menilik semangatnya, aku seperti burung merpati yang sedang terseok-seok kembali ke kandang setelah melakukan perjalanan jauh. Tapi, itu menimbulkan hati yang baru.
Lewat kedua buku ini, aku menjadi semakin percaya dengan apa yang telah kupercayai dalam hidup ini, yaitu hidup adalah sebuah proses belajar tiada akhir. Seperti yang dikatakan oleh Andreas Harefa, hidup adalah pembelajaran.
Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanyalah sebuah proses. Entah itu dalam hal proses pembentukan karakter, proses memahami orang lain, proses menimbulkan keahlian dalam diri, proses menjadi diri sendiri, proses mengandalkan Tuhan dalam segala perkara, juga proses menumbuhkan iman. Tentu saja tujuannya adalah menjadi sempurna. Tapi, tak ada kesempurnaan di dunia ini. Karena itu, kita perlu terus belajar. Sampai Tuhan Yesus datang dan menyempurnakan segalanya bagi kemuliaan Kerajaan Surga.
Selamat belajar…
btw, itu buku tentang apa sih? Rahasia… beli ‘ndiri dunkz…. huehehehe