Filed under: Reflection
Jadi wanita karir gak pernah kebayang dalam pikiranku.
Hatiku juga gak pernah mendamba untuk duduk manis di kantor, pake seragam ayu dan dandan cantik bagai bidadari. Jauh dech…
Sejak kecil aku cuma kepingin jadi dokter.
Alasannya satu. Dokter itu baik, ya. Mau nolongin orang sakit dan menderita.
Aku kepingin bisa nolong orang seperti dokter-dokter yang aku tonton di tipi-tipi itu.
Keinginan itu gak lepas sampe aku SMU dan ambil penjurusan.
Biologi, pilihan penjurusanku supaya aku bisa ambil fakultas kedokteran.
Tapi, cita-cita ternyata gak berakhir sampe penjurusan di SMA. Masih ada jalan lain yang kudu dilewati.
Aku kudu ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri dengan pilihan fakultas kedokteran. Kudu di uni negeri. Kalo ndak, ya gak bisa skul. Pa-ma gak sanggup sekolahin aku di uni swasta. Apa mau dibilang, aku gak masuk seleksi itu. Kegagalan pertamaku sepanjang sejarah aku bersekolah JJJ
Singkat cerita, aku gak jadi dokter. Sekarang aku berprofesi sebagai wartawan, tapi belakangan aku lebih senang disebut penulis. Alasannya, aku sudah tidak terlalu aktif menjalankan tugas jurnalistik lagi dan lebih banyak menulis naskah pendek.
Ketika nyadar bahwa aku gak bakal bisa jadi dokter, aku juga gak mikir kalo aku bakal kerja di kantoran sambil ngejar kedudukan, fasilitas dan segala macam atribut ‘wah’ lainnya. Yang aku tahu, aku bisa kerja, menjadi diriku sendiri dan dapet duit… hehehe…
Makanya, kalo ada yang bilang aku adalah wanita karir, kudunya mereka liat, apa aku punya kedudukan bagus di kantor, apa aku punya seabrek fasilitas dan segudang jabatan… huehehehe… seandainya, aku bener-bener wanita karir… walah… gak kebayang, dech…
Aku lebih suka diriku sendiri sekarang. Mengubur karir, menumpuk karya.