funky_manna


Out of Mind
May 22, 2006, 10:03 pm
Filed under: Reflection

Sabtu kemarin, aku diajak ikut ibadah anak-anak Indo di Berlin.

Aku ho-oh aja. Ternyata, pengkhotbahnya orang Jerman. Namanya Fabian (yeah, kalo gak salah nulis, sich).

Dibantu seorang penerjemah, aku mulai ngikutin khotbah yang disampaikannya. Nah, yang nerjemahin juga keteteran… hehehe… Jadilah, aku hanya nangkap inti khotbah itu sepotong-sepotong.

Tapi, aku heran betapa hatiku benar-benar hancur ketika aku mengikuti ibadah itu (yang khotbahnya aku mengerti sedikit aja). Beberapa kali aku tak kuasa menahan genangan air mata. Ada catatan, aku tidak sedang bersedih atau sentimentil.

Out of mind… mungkin itu kata yang tepat. Sambil nulis blog ini, aku nanya ama dd Vlo. Gak ada di pikiranku sama sekali. Tapi kasih Tuhan begitu nyata menguasai aku. Oppssss…

Aku mensyukuri perjalanan ini. Bukan sekadar jalan2, tapi ada yang ingin Tuhan nyatakan lebih dalam lagi padaku.

Aku tidak mengerti bahasanya. Tapi aku merasakan kasih-Nya.

The language is out of mind. But, I can feel the power of love…

Mungkin juga perjalanan ini kulakukan karena sebuah kekuatan cinta. Nobody knows…

Tuhan kita memang dahsyat, kan?



Ach so…
May 22, 2006, 7:09 am
Filed under: Travel

Ach so…

Oh, begitu….. hehehehe… Kata ini mulai akrab di kupingku ketika aku tiba di Berlin. Dan, kata-kata ini terdengar lebih sering keluar dari bibir teman-teman Indo yang kuliah di daripada Ingo (yang Jerman beneran). Setiap kali aku bercerita atau mereka bertanya sesuatu, kata "ach so…." keluar begitu saja…

Dan, aku bertanya pada Ingo… apa artinya "Ach so…" sepertinya enak sekali untuk ditirukan… hehehe, konyolnya aku, ya…

Sebuah perjalanan memang selalu menghasilkan hal baru dalam pribadi tiap manusia. Hanya saja, apakah manusia itu menyadarinya atau tidak. Proses kesadaran akan hal baru perlu dimiliki oleh tiap manusia. Termasuk yang saat ini terjadi pada diriku.

Tiga hari berada di Berlin membuat sisi lain jendela hatiku terbuka. Mungkin masih banyak yang kudu aku pelajari dan ketahui… Dan, lebih baik aku membiarkan tangan Tuhan menuntunku… membawaku lebih dalam lagi mengenali rencana-Nya dalam hidupku… Ach so….



Porsi Syeremmmm
May 21, 2006, 2:10 pm
Filed under: Food and Drink

Berlin, 21 Mei 2006

Lunch bareng Myrna en Tera. Yang satu dari Jakarta. Satunya dari Solo. Jadilah logatku sendiri kacau balau karena berusaha menyesuaikan dengan keduanya — meski yang lebih adalah aku lebih sok Jakarte getu dech….

Pulang komsel, setelah rapat beberapa saat (maklum orang Indonesia), diputuskan kami akan makan makanan Vietnam. Aku yang memang sangat dicintai dan mencintai makanan, hampir tidak pernah mengalami proses yang lama untuk menganggukkan kepala. Kami pun berangkat ke restoran Vietnam.

Tak lama pesanan pun datang dan aku shock melihat porsi makanan yang terhidang di depanku… Ampun, mak…. Aku tidak tahu apa nama makananku… Isinya nasi dicampur dengan sayur semacam cap cay dan ada ikan goreng yang enak luar biasa. Well, dan aku bo’ong kalo aku gak bisa ngabisin makanan itu. Dalam keadaan lapar dan takjub dengan porsi syerem itu… toh aku bisa ngabisin porsi syerem itu…. Ach, aku memang bo’ong jika bilang tidak bisa menghabiskan makanan lezat itu.

Dalam kehidupan rohani, Tuhan pun sering ngasih porsi syerem buat kita. Tapi yang sering jadi masalah, mengapa aku tidak pernah mau menghabiskan porsi syerem itu….? Aneh…. Padahal Tuhan selalu bilang, kalo mau nambah lagi, ayo….  minta pada-Ku. Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau. Makan yang enak… rasakan kasih-Ku… rasakan kuasa-Ku…. Ah, Tuhan… aku bener-bener malu kalo ingat makanan ini.

Kudunya aku menyukai hidangan-Mu bahkan menghabiskannya untuk kekuatan imanku. Kudunya sich….



Tembok Berlin
May 21, 2006, 1:56 pm
Filed under: Reflection

Berlin, 21 Mei 2006

Tembok Berlin adalah simbol dari keterikatan. Di depan Brandenburger Tor (demikian orang Jerman menyebut gerbang yang dulunya membatasi antara Berlin Barat dan Berlin Timur), terpampang deretan nama dan foto-foto mereka yang pernah nyoba melarikan diri ke Berlin Barat untuk memperoleh kebebasan. Nyawa mereka berakhir di hadapan salak senjata. Kebebasan hanyalah mimpi yang gak pernah terwujud.

Hari ini, tembok Berlin telah diruntuhkan. Kebebasan dapat dirasakan oleh warga Berlin Timur. Mereka dapat melintasi Brandenburger Tor tanpa ada kekhawatiran. Mereka sudah bebas. Kemana pun warga Berlin timur ingin melangkahkan kaki, tak ada lagi tembok keterikatan yang membatasi mereka.

Salib Yesus telah meruntuhkan tembok keterikatan kita dari dosa. Darah Yesus telah menghantarkan kita melintasi seluruh tempat tanpa kekhawatiran. Tak ada lagi ‚tembok Berlin’ yang membatasi kita. Kemerdekaan… kebebasan…. Mutlak kita dapatkan dalam Yesus Kristus. Kita tidak lagi terikat dalam dosa. Hancurkan tembok keterikatan itu. Dapatkan kebebasan dalam Yesus.

Berlin, 21 Mei 2006, 11.00 pm waktu Berlin



Nawarin Petat
May 20, 2006, 3:33 pm
Filed under: Religion

Berlin, 20 Mei 2006

Selama tiga hari, aku ada di Delft, Belanda. Aku nginep di rumah Cie Pauline dan Ko Waldy. Dua anak mereka, Grace dan Lukas sudah mencuri hatiku…. tapi, mereka bukan pencuri lho… :)

Dua hari lalu, aku diajak jalan ama Cie Pauline ke centrum kota Delft. Grace dan Lukas udah barang tentu ikut dunkz… Angin dingin yang lumayan kencang membuat kami cepat laper…. kalo aku emang tukang lapar… hehehe. Cie Pauline beli ikan goreng… hmmmm.. enak sekali. Andai bisa lebih lama di Delft, aku mau makan ikan goreng itu setiap hari. Grace gak bisa ikut makan. Jadi, Cie Pauline beli petat (kentang goreng) untuk si kecil 2,5 taon ini.

Menikmati ikan goreng dan petat, kami milih nongkrong di pinggir monumen di depan gereja tua. Dan, Grace mulai menunjukkan pelayanannya. Ia jumpa dengan seorang pemuda bule cilik. Usianya pasti lebih tua dari Grace. Dengan semangat, Grace membawa petat di tangannya dan menyerahkan petat itu pada si bule cilik tadi. "Kakak….," serunya. Singkat cerita, bule cilik itu menerima petat dari tangan Grace dan menikmatinya.

Tak berapa lama, Grace mengulang pelayanannya. "Kakak…." serunya lagi. Kali ini si bule menggelengkan kepala dan berkata dalam bahasa Belanda yang bila diterjemahkan artinya "Tidak… udah kenyang." Seolah gak mau tau, Grace mengejar bule kecil itu sambil menyodorkan petat di tangannya. Lebih keras Grace memaksa, lebih keras juga bule itu menggelengkan kepala. Akhirnya Grace menyerah. Bisa jadi dia kecewa. Aku tidak tahu. Tapi mamanya berkata, "Nak, kamu seperti Tuhan Yesus yang menawarkan keselamatan, namun tidak ada yang mau menerimanya."

Tercelik dalam pelukan angin dingin, hatiku tersayat pilu. Yach,… mungkin seperti itulah yang terjadi. Tuhan Yesus telah menawarkan keselamatan bagi manusia, namun tidak banyak yang menerimanya dengan sukacita. Manusia lebih sering menolaknya.

Well, apakah saat ini kita telah menerima tawaran ´petat keselamatan’ itu? Ataukah kita sudah kenyang dengan hal-hal duniawi sehingga kita menolak ‘petat keselamatan’ dari Tuhan?



Perjalanan….
May 16, 2006, 12:07 am
Filed under: Uncategorized

Aku tahu kenapa aku melakukan perjalanan ini…

Tapi, aku tidak yakin apakah aku hendak melakukan perjalanan ini….

semua masiht ampak kabur dan tidak ada yang jelas di pandangan mataku….

biar sajalah….

bukankah perjalanan adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan?

kalaupun masih kabur, aku ingin Tuhan yang menggendongku

dan membawaku terus menapaki perjalanan ini

menuju tempat yang telah disediakan-Nya bagiku….

Jakarta, 16 Mei 2006



Time Likes A Wind
May 13, 2006, 7:54 am
Filed under: Reflection

Gak kerasa bulan kelima ini terlewatkan getu aja. Tau-tau udah bulan Juni. Pffff… ceper banget ya…

Udah pertengahan taon dan aku masih punya banyak Pe Er yang belon terselesaikan…. bahkan ada yang belon jalan sama sekali.

waktu emang berlalu seperti angin. dia lewat getu aja gak pake permisi, gak bisa distop dan gak bisa disuruh balik.

Aku tau hidupku kudu terus ditata. Many things that I have to think about. My life, my future, my family, my lover, my friends…. Aku gak pingin kehilangan waktuku seperti angin yang terus berlalu….



Sudah Selesai
May 12, 2006, 7:47 pm
Filed under: Reflection

Sebagian besar di antara kita pastilah pernah mengenyam bangku pendidikan di sekolah formal. Di sekolah,ada dong yang namanya ulangan atau ujian. Ulangan atau ujian itu diadakan oleh sekolah sebagai tanda, apakah kita bisa naik kelas atau tidak. Ujian diadakan oleh sekolah untuk mengetahui apakah kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi atau tidak. Dan, pffffff… kita pastilah akan bernapas lega ketika ujian selesai. Senangnya. Dan, lebih lega lagi ketika kita sudah lulus dari sekolah. Hore… tidak perlu ke sekolah lagi. Tidak perlu ujian lagi.

Tapi, jangan lupa, saat ini kita sedang berada dalam sekolah kehidupan. Ujian demi ujian harus kita lewati agar kita mengalami kenaikan tingkat, baik itu dalam hal iman, karakter maupun pengalaman batin. Disadari atau tidak, ujian yang harus kita lalui dalam sekolah kehidupan ini terasa lebih sulit daripada ujian di sekolah formal. Persahabatan, pekerjaan, hubungan dengan saudara seiman, hubungan suami isteri, masalah anak dan segala hal yang mengikutinya, hubungan dengan teman kerja, problem ekonomi, dan seabreg urusan kecil lainnya, seringkali membuat kita tidak tahu bagaimana harus melalui ujian itu. Dan, bila gagal, tak jarang kita tidak tahan dengan segala ujian itu. Yeah… kita belum bisa bernapas lega. Masih banyak hal yang harus kita lakukan. Tapi, sanggupkah kita?

Kita memang belum selesai melakukan semua perkara yang menjadi beban dan tanggung jawab kita di dunia ini. Kita belum tuntas menyelesaikan sekolah kehidupan yang sedang kita jalani hari ini. Tetapi, kita tidak perlu menyerah. Kita tahu pasti bahwa kekuatan kita terbatas. Namun, kita memiliki Tuhan yang kekuatan-Nya tidak terbatas. Kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar daripada semua permasalahan besar yang kita hadapi. Kita memiliki Tuhan yang telah menjalani setiap ujian di dalam kehidupan-Nya semasa Ia masih berada di dunia ini. Ia pernah disakiti, Ia pernah ditinggalkan, Ia pernah dibenci, Ia pernah tidak dipedulikan, Ia pernah mengalami semua masalah yang kini kita alami. Ini menunjukkan bahwa kita tidak sendiri saat kita menjalani ujian dalam sekolah kehidupan.

Surat 1 Korintus 10:13 mengatakan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Pernyataan ini dibuat oleh Rasul Paulus yang tidak saja pandai berkhotbah, tetapi ia sendiri telah memiliki pengalaman pribadi yang sangat tidak menyenangkan dalam sekolah kehidupannya. Ia telah menjalani suatu ujian yang tidak dapat dikatakan ringan. Ia dipukuli sampai setengah mati, dibuang, dipenjara dan disiksa, dan sebagainya. 

Ujian dalam sekolah kehidupan kita memang belum berakhir. Namun, kita tahu sekarang bahwa kita tidak menjalani ujian itu seorang diri. Mari kita melakukannya dengan penuh semangat dan penuh cinta bersama Yesus, Tuhan yang tak pernah sedetik pun melupakan dan meninggalkan kita. Ada saat dimana kita benar-benar menyelesaikan semua ujian kita dalam sekolah kehidupan. Sudah selesai!



Kristen tanpa Kristus
May 12, 2006, 7:36 pm
Filed under: Reflection

Buku Devosi Total yang saya dapatkan dari Ko Khe Tjien (Bp. Natanel Tjien) sangat membakar dan menggugah relung hati saya yang paling dalam. Banyak kisah yang membuat saya harus berpikir, benarkah saya telah menjadi Kristen?

Sebuah kisah di dalamnya menyebutkan seorang pria yang kehilangan orang tua, saudara kandung, sepupu dan seorang kenalan  dalam sebuah tragedi pembakaran gereja mengatakan, “Menjadi Kristen terasa mudah karena kita memiliki Kristus.” Pria ini bukannya tidak memiliki masalah. Dia sedang menghadapi satu kondisi yang amat memilukan. Toh, ia menyatakan hal itu sebagai perkara yang mudah karena ia memiliki Kristus.

Saya langsung terhenyak. Ternyata, di balik peristiwa memilukan itu ada peristiwa lain lagi yang lebih tragis dan memilukan, yakni tatkala seorang Kristen tidak memiliki Kristus dalam hidupnya. Tak heran bila banyak orang Kristen yang merasa sulit dan selalu dililit dengan permasalahan yang dianggapnya tak akan mudah memperoleh jalan keluar. Tak heran banyak orang Kristen merasa hidupnya merana karena Tuhan tidak menjawab doanya. Sekarang saya tahu jawabnya. Orang-orang ini adalah orang Kristen tanpa Kristus.

Pertanyaannya, apa ada orang Kristen tanpa Kristus? Tentu saja jawabnya adalah “Ada”. Orang Kristen tanpa Kristus adalah orang yang pergi ke gereja untuk sebuah rutinitas atau kebiasaan. Orang Kristen tanpa Kristus adalah orang yang memahami isi firman Tuhan tanpa memiliki pengalaman pribadi bersama Tuhan. Orang Kristen tanpa Kristus adalah mereka yang pandai berkhotbah tapi tidak (atau enggan) melakukan firman Tuhan. Orang Kristen tanpa Kristus adalah mereka yang menjadikan Tuhan sebagai salah satu alternatif dalam mendapatkan jalan keluar atas sebuah permasalahan.

Fam’s, ada saat dimana kita perlu memeriksa hati kita. Sudahkah kita menjadi orang Kristen yang memiliki Kristus dalam hidup kita? Bukan saja Kristus yang bertahta di atas puji-pujian di hari Minggu saat beribadah di gereja. Bukan saja Kristus yang kita elu-elukan kala Natal menjelang. Rasul Paulus menuliskan dalam surat 2 Korintus 5:14, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.“

Hal ini menunjukkan sebuah kondisi bahwa Yesus Kristus telah mati bagi kita dan untuk itu, hidup kita sepenuhnya ada dalam kuasa kematian dan kebangkitan Kristus. Ini berarti kehidupan kita sebagai orang Kristen sepatutnya ada dalam kuasa Kristus. Bila kita tidak memiliki Kristus dalam hidup kita, maka kekristenan macam apakah yang sedang kita lakoni saat ini?

Kekristenan kita terbentuk justru karena pengorbanan Kristus di kayu salib. Bila kita membiarkan kekristenan kita kosong tanpa Kristus dalam hidup kita, masakan kita hendak menuntut damai sejahtera, sukacita dan kemenangan yang dijanjikan-Nya? Ingatlah perkataan ini, kehidupan kekristenan kita terasa mudah karena kita memiliki Kristus.