funky_manna


Don’t be Look So Busy
September 30, 2006, 1:36 am
Filed under: Just wanna write

Seorang sahabat menegor aku: Jangan keliatan terlalu sibuk lah…

Huehehehe… Mulanya aku bingung, apa memang aku keliatan sibuk atau aku emang sibuk?

Aku sendiri jadi gak tau mana yang benar. Yang jelas, belakangan ini aku emang super belingsatan. Ngurus the next project, prepare publikasi untuk sebuah event rohani, kejar-kejaran ama deadline renungan… Tapi, aku sih biasa aja. Mungkin gara-gara dia ngeliat dua HPku yang berhenti bunyi, jadi dia puyenk getu ya… Mungkin juga jadi budeg sedikit… hehehe…

Anyway, aku memandang hal itu sebagai perhatian seorang sahabat padaku.

Punya sahabat itu memang indah :)



Welcome to Their World
September 23, 2006, 6:16 am
Filed under: Reflection

Seharian ini aku ‘jalan’ ama anak-anak kecil. Usianya antara 7 bulan sampe 7 tahun. Hehehe… ada yang bandel, ada yang cerewet, ada yang suka bengong, ada juga suka yang ‘aleman’ eh ada juga yang so sweet.

Aku diundang sebuah learning center yang mengadakan Family Gathering untuk sharing tentang melayani dan mendidik anak. Tentu saja aku terbatas karena belum menikah dan belum memiliki anak. Hal itu pun telah kusampaikan pada para guru yang mengundangku. Entah mengapa, mereka tetap mempertahankan aku untuk menjadi narasumber mereka. Jadilah aku berada di Prigen bersama anak-anak, guru mereka, orang tua mereka dan juga.. pembantu mereka hehehe….

Ada Kevin dan Kenneth, dua bersaudara yang aktif dan rupawan. Ada Jessy yang manis dan looks like a baby dool. Ada Lia yang turunan bule dan manja. Ada Lio yang lamayan rame kalo proses booting-nya selesai (hehehe, itu kata papanya). Ada juga Christo yang suka senyum kalo disebut namanya. Ada Rico, Albert, Alex yang gendut tapi lincah… wah… aku tiba-tiba masuk dalam dunia mereka. Meski aku gak sepenuhnya main dengan mereka, toh aku bagai terhisap dalam sebuah kenangan indah — kenangan di masa kecilku — juga dalam sebuah harapan — harapan di masa depanku :)

Berhadapan dengan anak-anak memang membutuhkan sebuah kesabaran ekstra dan hikmat yang luar biasa. Dan aku percaya Tuhan telah menghibahkan semua hikmat yang dibutuhkan oleh orang tua untuk mendidik anak-anak itu agar menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan takut pada Tuhan. Aku pun tidak memberikan ’sharing’ untuk menggurui para orang tua itu. Aku hanya mengekspresikan apa yang diharapkan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Meski aku belon jadi orang tua, setidaknya aku pernah jadi anak, kan?

Dalam perjalanan pulang, sepanjang jalan Trawas-Mojosari-Sepanjang, aku terdiam dan memikirkan satu hal… bergaul dengan anak setiap saat membuat kita selalu terkagum melihat pelbagai keajaiban baru yang terjadi. Salah satu contohnya adalah melihat Sasha, keponakanku, menggosok giginya dengan rutin. Sasha belajar berdiri dan berjalan. Dan, sore tadi, aku mendengar Sasha menyebut namaku… ”ante… -nniiiii…." Lidahnya memang masih berat. Tapi aku yakin, dia menyebut namaku :) Selalu ada keajaiban dalam dunianya.

Di dalam hidupku… aku sedang belajar banyak hal dari kehidupan anak-anak… welcome to their world… The Children World :)



There’s No Rule
September 21, 2006, 6:53 am
Filed under: Reflection

Malam ini aku ngeliat seorang anak usia balita di atas sepeda motor. Anak itu posisinya berdiri di depan setang motor. Sedangkan pengendaranya seorang pria berusia dua puluhan. Mungkin ayahnya. Mungkin juga omnya. Atau bisa juga tetangganya.

Sedikit ngeri. Sedikit miris aku melihat adegan tersebut. Aku tidak dapat membayangkan bila pengendara motor itu tiba-tiba harus menghentikan laju kendaraannya dengan mendadak. Ah, apa yang akan terjadi pada anak itu. Dalam hati, aku sangat ingin memaki pengendara motor yang ceroboh itu. Entah mengapa ia tidak menasihati anak itu agar duduk dengan baik untuk menghindari semua kejadian yang tidak menyenangkan.

Bisa jadi si pengendara telah mengingatkan anak kecil itu tetapi si anak membandel sehingga pengendara itu sudah enggan mengomentarinya. Hanya saja aku berpikir, sudah pasti si anak tidak memahami bahaya yang sedang mengintainya. Bagi seorang anak, kesenangan adalah segala-galanya. Tetapi bagi orang dewasa, kesenangan haruslah diperhitungkan sesuai dengan risiko yang akan terjadi. Sederhananya begini. Anak kecil tidak tahu bahaya. Tapi orang dewasa memahami bahaya.

Itu sebabnya Tuhan memberikan perintah kepada kita. Bukan untuk dilanggar, melainkan untuk ditaati. Mengapa? Karena Tuhan memahami bahaya yang sedang mengintai kita. Dengan semua peraturan yang diberikan-Nya, Tuhan ingin agar kita terhindar dari bahaya. Susahnya, kita lebih sering memandang peraturan yang diberikan Tuhan itu sebagai hal yang mengikat kita dan membuat kita tidak dapat bergerak dengan bebas.

Ah, aku senang karena aku memahami mengapa Tuhan memberikan peraturan kepada kita. Ia lebih tahu semua bahaya yang sedang mengintai aku. Ia tidak ingin aku hanyut dalam bahaya yang akan menghancurkan aku…



Eight Below
September 20, 2006, 5:38 am
Filed under: Film

Film tentang hewan adalah salah satu film favoritku. Yang baru-baru ini kutonton adalah Eight Below. Film ini mengisahkan tentang 8 anjing salju yang bertahan hidup di Kutub Selatan.

Setelah bertugas menarik kereta salju dalam sebuah ekspedisi, 8 anjing tersebut terpaksa ditinggalkan di kutub karena ada badai yang menghalangi ekspedisi itu. Yang menyedihkan ke-8 anjing itu dirantai sehingga mereka tidak dapat mencari makanan. Singkat cerita 7 dari 8 anjing tersebut berhasil melepaskan diri dari rantai. Tapi seekor lainnya (Jack Tua) tidak berhasil melepaskan diri karena tubuhnya dan usia senja.

Yang seekor lainnya mati setelah terjatuh dari ketinggian. Tinggal 6 anjing yang harus bertahan hidup. Maya, si pemimpin berhasil mengajak kelompoknya untuk menyergap burung laut sehingga mereka berhasil mendapatkan makanan. Max, anjing paling muda, tidak berhasil memperoleh makanannya. Dia berusaha minta bagian dari anjing yang lain namun Max tetap tidak mendapat bagian. Ketika Max mendekati Maya, rupanya Maya membiarkan Max memakan bagiannya.

Di saat yang lain, Max menemukan bangkai ikan paus. Rupanya ada oknum lain yang telah mendahului mereka. Seekor singa laut yang cukup besar tidak rela berbagi. Ia pun berhasil mengusir Max. Ketika melihat teman-temannya muncul, Max melakukan sebuah tindakan yang sangat berani. Ia mendekati bangkai ikan paus dan merobek daging yang cukup besar. Tindakan ini membangkitkan kemarahan pada singa laut. Siasat ini berhasil. Singa laut ini mengejar Max sehingga Maya dan yang lainnya dapat menghampiri bangkai ikan paus dan mulai makan.

Setelah beberapa saat, singa laut menyadari kecerobohannya. Ia pun berbalik ke tempat bangkai ikan itu dan berhasil menggigit kaki belakang Maya. Berkat Max dan yang lain, singa laut itu melepaskan Maya dan kabur. Tapi kaki Maya terluka. Ia pun pincang. Dalam sebuah perburuan yang lain, Max dan kawan-kawan berhasil mendapatkan burung laut. Tapi Maya yang terluka tidak dapat mencari makanannya. Dengan hormat, Max menyerahkan bagiannya pada Maya. Rupanya ia teringat bahwa Maya pernah membiarkannya ikut makan burung yang tidak pernah diperolehnya sendiri. Tapi Maya enggan makan bagian Max. Ia menyerahkannya kembali pada Max.

Singkat cerita, tim ekspedisi yang pernah meninggalkan mereka pun kembali. Kelima anjing yang lain mendengar suara kendaraan salju dan bergegas mendekat. Sayangnya, Maya terlalu lelah untuk menghampiri tim ini. Max pun menunjukkan kesetiannya pada Maya. Ia tidak masuk ke dalam kendaraan itu. Ia berlari menuju Maya. Seorang anggota ekspedisi mengikuti Max dan menemukan Maya yang terbaring lemah.

Film ini merupakan kisah nyata. Bagiku, ini bukan film tentang anjing. Ini film tentang persahabatan, tentang pengorbanan, tentang kerelaan juga kesetiaan. Kalo anjing-anjing saja bisa berbuat ’sesuatu’ bagi sesamanya, mengapa manusia masih saja berebut ‘tulang’ untuk mendapatkan kepuasan sesaat? Seharusnya kita ‘malu’…



Lupa Wajah Tuhan
September 15, 2006, 10:23 pm
Filed under: Reflection

Melihat wajah mungil keponakan saya, teringat akan sebuah kisah yang diceritakan oleh Ken Blanchard dalam bukunya Kita Orang Yang Dikasihi Tuhan.

Seorang gadis kecil berusia 5 tahun mendatangi kamar adik bayinya yang belum lama lahir. Khawatir jika si gadis cilik itu merasa cemburu dengan kehadiran adik bayinya, maka kedua orang tua si gadis memutuskan untuk membuntutinya dari belakang. Namun mereka sepakat untuk tidak menegor si gadis. Sampai di kamar, gadis cilik itu naik ke atas ranjang. Tangannya terangkat. Sang ibu yang hendak menerobos masuk ditahan oleh sang ayah. Kekhawatiran sang ibu tidak terjadi tatkala melihat putri sulungnya mengulurkan tangan dan membelai wajah adiknya.

Sembari berbisik, ia berkata, “Adik, kamu kan baru datang dari surga. Ceritakan padaku, bagaimana wajah Tuhan itu? Aku sudah lupa.”

Membaca kisah itu, hati saya tergelitik untuk ikut-ikut bertanya kepada keponakan saya, “Ehm… kamu masih ingat wajah Tuhan, gak?” Dan, saya benar-benar melakukannya. Tapi, saya tidak mendapat jawaban yang saya perlukan. Keponakan saya hanya bergumam dan tersenyum tipis. Mungkin saja, dia sedang meledek saya karena saya lupa wajah Tuhan… hehehe…

Well, ingatkah Anda, bagaimana wajah Tuhan? Kita bukanlah bayi yang baru lahir. Besar kemungkinan kita tidak ingat wajah-Nya. Tapi tidak berarti kita tidak bisa mengenali wajah Tuhan sama sekali. Terbukti, saat Raja Salomo berdoa, Tuhan mengatakan agar kita mencari wajah-Nya (2 Tawarikh 7:14). Kemudian dalam kitab Mazmur 11:7 disebutkan, “Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.”

Kita memang tidak akan memandang wajah Tuhan secara fisik selama kita masih hidup di dunia ini. Tetapi kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam roh kita bila kita mau merendahkan diri dan mencari Tuhan dengan segenap hati kita. Saat itulah, Tuhan akan memalingkan wajah-Nya dan membiarkan kita menikmati kehadiran-Nya. Itu adalah saat terindah yang pernah kita rasakan dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Setiap detik adalah saat terindah bagi kita untuk mencari wajah Tuhan. Dan… biarkan Dia menghadapkan wajah-Nya kepada kita, memberi kedamaian dan sukacita, memancarkan pengharapan serta menyatakan kebenaran untuk memberikan jawab kepada dunia. Karena… Dia tak pernah melupakan wajah kita. Masihkah Anda melupakan wajah Tuhan?



Kristen Tanpa Kristus
September 15, 2006, 3:26 am
Filed under: Reflection

Buku Devosi Total yang saya dapatkan dari Ko Khe Tjien (Bp. Natanel Tjien) sangat membakar dan menggugah relung hati saya yang paling dalam. Banyak kisah yang membuat saya harus berpikir, benarkah saya telah menjadi Kristen?

Sebuah kisah di dalamnya menyebutkan seorang pria yang kehilangan orang tua, saudara kandung, sepupu dan seorang kenalan  dalam sebuah tragedi pembakaran gereja mengatakan, “Menjadi Kristen terasa mudah karena kita memiliki Kristus.” Pria ini bukannya tidak memiliki masalah. Dia sedang menghadapi satu kondisi yang amat memilukan. Toh, ia menyatakan hal itu sebagai perkara yang mudah karena ia memiliki Kristus.

Saya langsung terhenyak. Ternyata, di balik peristiwa memilukan itu ada peristiwa lain lagi yang lebih tragis dan memilukan, yakni tatkala seorang Kristen tidak memiliki Kristus dalam hidupnya. Tak heran bila banyak orang Kristen yang merasa sulit dan selalu dililit dengan permasalahan yang dianggapnya tak akan mudah memperoleh jalan keluar. Tak heran banyak orang Kristen merasa hidupnya merana karena Tuhan tidak menjawab doanya. Sekarang saya tahu jawabnya. Orang-orang ini adalah orang Kristen tanpa Kristus.

Pertanyaannya, apa ada orang Kristen tanpa Kristus? Tentu saja jawabnya adalah “Ada”. Orang Kristen tanpa Kristus adalah orang yang pergi ke gereja untuk sebuah rutinitas atau kebiasaan. Orang Kristen tanpa Kristus adalah orang yang memahami isi firman Tuhan tanpa memiliki pengalaman pribadi bersama Tuhan. Orang Kristen tanpa Kristus adalah mereka yang pandai berkhotbah tapi tidak (atau enggan) melakukan firman Tuhan. Orang Kristen tanpa Kristus adalah mereka yang menjadikan Tuhan sebagai salah satu alternatif dalam mendapatkan jalan keluar atas sebuah permasalahan.

Ada saat dimana kita perlu memeriksa hati kita. Sudahkah kita menjadi orang Kristen yang memiliki Kristus dalam hidup kita? Bukan saja Kristus yang bertahta di atas puji-pujian di hari Minggu saat beribadah di gereja. Bukan saja Kristus yang kita elu-elukan kala Natal menjelang. Rasul Paulus menuliskan dalam surat 2 Korintus 5:14, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.“

Hal ini menunjukkan sebuah kondisi bahwa Yesus Kristus telah mati bagi kita dan untuk itu, hidup kita sepenuhnya ada dalam kuasa kematian dan kebangkitan Kristus. Ini berarti kehidupan kita sebagai orang Kristen sepatutnya ada dalam kuasa Kristus. Bila kita tidak memiliki Kristus dalam hidup kita, maka kekristenan macam apakah yang sedang kita lakoni saat ini?

Kekristenan kita terbentuk justru karena pengorbanan Kristus di kayu salib. Bila kita membiarkan kekristenan kita kosong tanpa Kristus dalam hidup kita, masakan kita hendak menuntut damai sejahtera, sukacita dan kemenangan yang dijanjikan-Nya? Ingatlah perkataan ini, kehidupan kekristenan kita terasa mudah karena kita memiliki Kristus.



Just Call My Name…
September 14, 2006, 6:40 am
Filed under: Reflection

Salah satu lagu yang pernah dipopulerkan oleh Jackson Five juga oleh Mariah Carey berbunyi: just call my name.. and I’ll be there…(sebut namaku dan aku akan berada di sana).

Saya berpikir, itulah yang dikatakan oleh Tuhan kepada saya di saat-saat saya sangat membutuhkan-Nya. “Sebut saja nama-Ku… dan Aku akan berada di sana… di sisimu…”. Saya tahu ini janji yang sangat indah sekali. Berapa banyak kita telah mengalami masalah dalam hidup ini? Apakah kita sempat menghitung masalah yang telah kita alami sepanjang kita hidup? Hehehe… Kalau pun saat ini Anda mulai menghitungnya, saya percaya pasti akan ada masalah yang tercecer dan tak sempat kita ingat lagi. Sepertinya, setiap hari, setiap saat, setiap detik, hidup kita gak lepas dari yang namanya masalah. Thanks God. Lho…? Koq malah bersyukur?

Firman Tuhan mengatakan agar kita tetap mengucap syukur dalam segala perkara. Tuhan tidak ingin kita mengeluh. Tuhan tidak ingin kita muram. Tuhan juga tidak ingin kita marah dan kecewa pada-Nya. Dalam pelbagai masalah – yang menurut kita sangat berat dan sangat besar – kita perlu tetap bersyukur. Dan inilah kuncinya: Call His name… Panggil nama-Nya. Tuhan tak akan membiarkan kita menghadapi semua masalah itu seorang diri. Dia mau berada di sisi kita dan memberikan kekuatan pada kita. Dengan demikian, kita dapat bertahan dan menghadapi semua masalah dengan sukacita dan kekuatan baru dari Tuhan.

Jika kita menghadapi masalah dengan sukacita dan kekuatan dari Tuhan, apakah ada keluhan dan sungut-sungut keluar dari mulut kita? Tidak mungkin, bukan? Wow!!! Dalam masalah yang kita hadapi, ada Tuhan bersama kita. Bukankah itu adalah hal yang luar biasa menyenangkan? Mungkin kita tak dapat menyentuh-Nya dengan ujung jari kita. Jadi, sentuhlah Tuhan dengan ujung hati kita. Sebut nama-Nya. Just call His name, and He will be there… be with us.



Aku dan Kamu
September 14, 2006, 6:36 am
Filed under: Reflection

Aku dan Kamu adalah sepasang sahabat.

Aku dan Kamu adalah sepasang kekasih.

Aku dan Kamu adalah dua pribadi yang berbeda namun disatukan oleh sebuah tujuan.

Dalam sebuah perjanjian abadi, Kamu menyatakan bahwa Kamu mengasihiku, menjagaiku dan selalu bersertaku dalam segala keadaan. Dan, aku sangat memahami itu. Kamu adalah pribadi istimewa yang tak akan tergantikan dalam hidupku. Sepanjang hidup, aku selalu ingin menyayangi-Mu, menghormati-Mu dan menyenangkan-Mu.

Toh, itu semua hanya bagai angin yang lalu begitu saja ketika aku merasa ada pribadi lain yang sepertinya menyenangkan hatiku. Aku mulai berpaling dari-Mu, meski aku tidak sungguh-sungguh ingin melupakan-Mu. Ya.. aku masih mencintai-Mu dan aku masih ingin bersama-Mu, namun aku juga tidak ingin meninggalkan pribadi lain yang kusukai itu. Ya, Kamu adalah pribadi istimewa yang tidak akan tergantikan itu. Meski begitu, aku tak dapat memungkiri bahwa aku mulai tidak peduli lagi pada-Mu. Aku merasa pribadi yang lain itu lebih dapat memahamiku. Apalagi saat aku membutuhkan sesuatu, Kamu tidak selalu dapat berdiri membelaku dan Kamu acap terlambat memberikan pertolongan.

Aku dan Kamu mulai berada di persimpangan jalan. Akhirnya, aku memahami bahwa Kamu adalah terminal terakhir, tempat dimana aku bisa berharap saat tiada pribadi lain yang dapat kuharapkan. Dan, aku tidak menyadari bahwa hal itu dapat membuat hati-Mu terluka. Kamu begitu sedih karena posisi-Mu bukan lagi di tempat istimewa dalam hatiku, melainkan hanya sebagai ban serep. Pribadi yang kupanggil saat aku membutuhkan-Mu. Sakitnya hati-Mu, namun aku masih membisu.

Detik-detik terus berlalu. Dan, aku mendapati kasih-Mu tak pernah berubah. Aku baru memahami bahwa pribadi lain yang kuharapkan ternyata hanyalah onggokan sampah bersalut kilau beningnya kaca. Aku mulai sadar bahwa aku tertipu. Selama ini, aku telah membuang waktuku untuk tinggal dan percaya pada pribadi yang semu. Ternyata, Kamu adalah pribadi setia yang sanggup menopang aku. Mungkin waktu yang Kamu berikan tak seperti yang aku bayangkan. Namun, waktu yang Kamu tampilkan ternyata benar adanya. Aku saja yang tidak memahami-Mu.

Tuhan, aku memang bodoh. Tidak mengerti kasih-Mu yang besar. Tidak memahami cinta-Mu yang setia. Tidak menghargai pengorbanan-Mu yang ajaib. Harusnya aku paham bahwa Kamu memang berbeda. Cara-Mu, gaya-Mu, sikap-Mu,tingkah-Mu, tutur kata-Mu, semuanya memang berbeda. Tentu saja berbeda… karena Kamu adalah pribadi yang istimewa dalam hidupku.

Aku dan Kamu… selamanya…. I love U, Jesus….



Think Twice
September 7, 2006, 7:30 am
Filed under: Reflection

Mikir dua kali…

Getu dech kira-kira yang hendak kusampaikan dalam blog ini.

Dan, sejujurnya aku bukanlah orang yang terbiasa berpikir dua kali dalam bersikap dan bertindak. Aku cenderung apa adanya. Dan aku menganggap itu sebagai kelebihanku. Toh, aku gak mau munafik. Gini ya gini. Getu, ya getu. Tapi aku juga nyadar kalo itu juga bisa jadi kekuranganku, karena hal itu bisa jadi menyakiti perasaan orang lain.

Seiring dengan perjalanan waktu, sudah sepatutnya jika aku tidak lagi terbawa dengan situasi dan kondisiku apa adanya. Think twice… Sebelum aku bersikap, aku mikir lagi. Sebelum aku bertindak, aku juga mikir dua kali. Sebelum aku ngomong, aku juga kudu mikir. Apa yang aku pikirkan bukan sekadar hal-hal yang membuat aku menutupi perasaan dan keadaanku. Apa yang aku pikirkan adalah hal-hal yang dapat menghindarkan aku dari menyakiti perasaan orang lain.

Sedapat mungkin, i just try…. jangan sampai ada yang terluka karena kecerobohanku dalam bersikap, bertindak, dan berkata-kata karena aku tidak berpikir dua kali.

Tuhan, tolong aku dan ajar aku menghitung hari-hari agar aku memperoleh hati yang bijaksana. Amin.



Have U Ever Lonely
September 6, 2006, 5:53 am
Filed under: Reflection

Have U Ever Lonely?

Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku” (Mazmur 27:10)

Umur 15 taon, aku ambil keputusan untuk  terima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat pribadiku. Sebuah keputusan yang terkesan gegabah karena gak sedikit temen SMP-ku yang shock. Gak heran, pas SMP, aku lumayan preman. Ngompas uang jajan anak-anak laen udah jadi makananku tiap hari. Jadi ketika ada pertanyaan: Fanny bertobat? Pfff… yang bener aja. Apa gak ada gosip laen?

Tapi itulah kenyataannya. Pas kelas 1 SMU, aku nangis diem-diem dan minta Tuhan mengubah cara hidupku, cara pikirku. Toh, pertobatan itu gak otomatis membuat aku bahagia seratus persen. Itu juga gak otomatis ngubah situasi ekonomi ortuku. Mereka tetep kudu kerja pagi sampe malem. Dan itu sering buat aku merasa kesepian. Aku kasian ama adik-adikku, tapi aku juga gak tau kudu gimana.

Gak jarang aku bingung nyari telepon umum atau pinjem telepon tetangga untuk nyari mamaku lewat pager (radio panggil). Aku kudu nelpon ke operator radio panggil dan dijawab sama mbak petugas operator: “Pesan untuk nomor berapa” Terus, aku nyebutin nomor radio panggil mama. Mbak operator yang suaranya empuk itu nanya lagi: “Pesannya apa?” Terus, aku ngomong, “Ma, ada dimana? Jangan lama-lama, ya.” Nah, berdasarkan kecanggihan terknologi saat itu, pesan yang kusampaikan lewat mbak operator itu akan tertulis di radio panggil mama, setelah ada bunyi “BIPPPPPPP” yang lumayan kenceng. Zaman itu belon ada ha pe, bo… JJJ

Tapi, apa yang aku rasakan sebelum bertobat ama kondisi setelah bertobat sangatlah berbeda drastis. Sebelum tobat, kalo pas kesepian aku bingung sendiri dan hopeless. Paling banter ya kirim pesen lewat radio panggil itu. Cukup sering terjadi, aku gak cukup tidur karena kudu ngeliatin adik-adikku; apakah mereka aman atau tidak; apakah mereka perlu bantuan atau tidak, dan sebagainya. Pokoknya, kalo gak karena kasih karunia Tuhan, aku bisa gila. Sebagai anak sulung, akhirnya aku jadi cukup protektif ke adik-adikku. Dalam banyak hal, mereka mengandalkan aku sebagai anak tertua. Dengan cepat aku kudu ngambil keputusan yang dibutuhkan saat itu. Tapi tentu saja itu gak otomatis buat aku jadi tegar dan gak ngerasa kesepian lagi. Justru karena keseringan kudu ambil keputusan untuk adik-adik, aku jadi lebih sering ngerasa kesepian. Walah… semua temen-temen masih pada bisa hahahihi, aku lho udah kudu ngasih keputusan untuk adik-adikku. Kadang aku merasa karena ngerasa sendiri.

Sebagai preman sekolah, aku emang punya banyak temen. Soalnya biar rada bandel, aku tuh juga termasuk dalam golongan anak pinter (hmmmm…. Narsis dikit boleh dunkz…), khususnya dalam pelajaran bahasa Inggris. Selain itu, aku juga bisa main gitar en nyanyi dikit-dikit. Jadi, temenku ya lumayan lah. Dalam beberapa hal, temen-temenku juga sering ngandalin aku. Biasanya sih kalo pas urusan ngerjain pe er. Tapi kalo udah di rumah, urusannya jadi beda. Aku jarang keluar rumah. Hmmm… tipe nice girl deh… Aku lebih suka nonton tipi, ngerjain pe er, bantu urusan rumah (paling gak ya nyapu, ngepel, getu), main sama adik-adikku, atau baca kalo pas adik-adikku sekolah (mereka sekolah siang). Nah, saat-saat itulah, aku sering banget ngerasa kesepian.

Papaku yang kerja di luar

kota

pulang dua minggu sekali. Malah kadang bisa lebih. Mamaku kerja pagi setelah antar aku sekolah dan pulang malam setelah jemput adik sekolah, bahkan bisa lebih malam lagi (dan adik-adikku pulang naik kendaraan umum). Aku jadi sering sendirian di rumah.

Setelah bertobat, aku punya cara pandang yang baru untuk menyikapi kesendirianku itu. Seperti kebanyakan orang yang baru bertobat, aku pun ngerasain cinta pertamaku bareng Tuhan. Aku mulai menghabiskan waktu dengan baca Alkitab, nyanyi lagu pujian. Denting dawai gitarku pun bergeser pada lagu-lagu bernuansa rohani. Hmmm… indahnya cinta pertama. Satu deret syair pun tercipta.

Kesunyian malam ini berteman dengan hidupku

Bintang-bintang di angkasa membisu tanpa kata terucap

Di dalam jiwa ini berpaut kekelaman hati

Tak satu pun nada terangkai usir sepi hati

Senandung rindu telah terucap terukir di dalam doa

Harapan sirna mimpi pun musnah yang tinggal hanya kedamaian

Usir galau jiwa ini beri ketentraman di hati

Tak ada yang menggoyahkan iman percayaku

Bila jiwaku sepi seorang diri

Hanya kupandang Kau Tuhanku

Bila hatiku tiada yang menemani

Kupanggil nama-Mu, Yesus

Lagu ini diciptakan pada nada dasar A dengan alat bantu gitar Osmond Bandung keluaran taon 1984. Syairnya keluar getu aja. Dan tiap kali aku nyanyikan lagu ini, aku ngerasa better. Aku tahu, meski aku sendiri secara fisik, tapi aku gak bener-bener sendirian. Ada Tuhan di sampingku. Aku nyadar ketika aku ngerasa sepi, aku gak sepenuhnya kesepian. Roh Kudus nemenin aku seperti janji Tuhan Yesus pada murid-murid-Nya: “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 15:26).

Semakin banyak baca firman Tuhan membuat aku semakin kuat ngadepin banyak hal. Bukan sekadar kuat karena aku sok hebat, tetapi cara pandangku bener-bener berubah. Aku gak lagi mengandalkan kekuatanku sebagai anak sulung yang kudu ngebela adik-adikku, tetapi aku mulai ngandalin Tuhan dan kekuatan-Nya. Pemahamanku tentang kekuatan Tuhan makin terbuka. Aku makin ngeh kalo kekuatanku sangatlah terbatas, karenanya aku bisa ngandalin Tuhan yang kekuatan-Nya gak terbatas. Menjerit dan memanggil nama Tuhan jadi hobi baruku kalo lagi ngadepin kesepian. Seperti yang dilakukan oleh Raja Daud: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku” (Mazmur 27:10). Biar papaku kerja di luar

kota

dan mamaku kerja sampe malem, aku tahu Tuhan tetap nemenin aku.

So, have u ever lonely? Just remember He never lets you alone. He always keeps His eyes on you. Smile… be happy… ‘coz He loves you so much….