Filed under: Reflection
Tanggal 30 September 2006, tepatnya pukul 23.45 WIB, tanteku meninggal dunia.
Beberapa jam sebelumnya, aku sempat masuk ruang ICU tempat dia terbaring tak berdaya. Ipar sepupu yang mendampingiku masuk tak dapat menahan luruhnya air mata. Di luar ruang ICU, di balik jendela besar dengan tirai tersibak, keluarga yang lain menatapku pilu. Pelan-pelan aku melihat air membasahi mata mereka. Dengan cepat aku memalingkan wajah. Tak ingin aku menangis di depan mereka. "Aku harus kuat," kataku.
Kudekati tubuh tanteku yang terlihat sudah membengkak. Dia tak sadar sejak subuh karena trombositnya melorot drastis. Bibirnya pecah. Napasnya berat tak teratur. Dia tampak kesakitan. Kutunggu seorang perawat yang sedang membersihkan darah dekat leher dan telinganya karena jarum transfusi darah sempat terlepas beberapa saat sebelum aku masuk.
Dengan sabar aku menunggu hingga perawat itu menyingkirkan tubuhnya dari hadapanku. Menghadap jendela, aku memberikan kode agar keluargaku mulai berdoa. Tapi entah aku sendiri tidak bedoa untuk kesembuhannya. Kucondongkan tubuhku ke tubuhnya dan berbisik di telinganya, "Hai maut dimana sengatmu? Kamu tidak berkuasa atas jiwa Kuku (demikian aku memanggil tanteku). Di dalam nama Yesus, aku rebut jiwa Kuku sekarang." Lalu aku berkata pada tanteku, "Ku… percaya pada Yesus. Kuku pasti selamat. Di dalam nama Tuhan Yesus."
Setelah berkata demikian, aku menunggu… dan menunggu… Tapi, aku tidak mendapatkan reaksi. Dalam hati, aku berkata, "Tuhan, aku perlu mukjizat-Mu dinyatakan atas keluargaku." Sekian menit kemudian, aku pasrah tidak mendapat reaksi apa pun. Aku keluar ruang ICU dan bersama keluargaku berdoa kembali di luar.
Pukul 23.00 WIB, ponselku bunyi. Koko (sepupuku) mengabarkan keadaan tante makin gawat. Tekanan darahnya turun sampe 40. Aku tidak bisa tidur dan menunggu kabar selanjutnya. Pukul 23.47 WIB, posel papa bunyi. Aku sudah tahu. Tanteku dipanggil Tuhan…. Dalam hati, aku protes: Tuhan, mana mukjizat-Mu?
Sekitar pukul 00.40 WIB, aku, papa dan mama sampe di rumah sakit dan melihat tubuh tante yang sudah terbujur kaku. Wajahnya bersih sekali. Tak ada kesakitan terpancar di wajahnya. Dan aku mulai malu pada Tuhan karena protes untuk sesuatu yang telah dilakukan-Nya. Mukjizat terbesar Tuhan bagi manusia… mukjizat keselamatan…. telah diberikan Tuhan kepada tanteku…. Praise God….
Aku percaya itu karena Koko memutuskan tante untuk dimakamkan secara Kristen dan adik tante (oomku) yang biasanya dominan, kali ini hanya diam saja. Tak ada komplain.
Tuhan, aku masih nunggu mukjizat-Mu terus dinyatakan atas keluargaku.
Melalui kejadian ini, aku percaya Tuhan sedang menjalankan rencana-Nya atas keluargaku.
Ming2 (sepupuku) masih di Singapore untuk kemoterapi. Penyakitnya tidak jelas…
Oomku yang nomor empat masuk rumah sakit…. Penyakitnya sudah menahun…
Tanteku yang nomor dua sedang dalam proses untuk pergi ke gereja….
Oomku yang nomor tiga perlu melembutkan hatinya…
Kami perlu mukjizat-Mu, Tuhan….