Filed under: Just wanna write
Salah satu icon yang paling kusuka adalah precious moment. Gambarnya khas dan lucu. Tapi, aku tak ’segila’ Lilis, sahabatku yang sangat suka mengoleksi semua barang2 precious moment. Aku hanya suka mengoleksi ‘THE PRECIOUS MOMENT’ dalam hidupku.
Beberapa kali aku menyadari adalah saat-saat terindah, saat-saat luar biasa, saat-saat yang tak akan tergantikan, saat-saat yang tak terlupakan — that’s the precious moment in my life… wow…
Salah satunya adalah saat aku ‘tertangkap’ Yesus padahal bertahun-tahun aku berusaha menghindari kehidupan agamawi yang selalu kuanggap sebagai kehidupan yang paling dipenuhi dengan kemunafikan. Well, I didn’t say anything when I knew He always love me just as I am. That’s a precious moment. Dan, saat itu umurku baru saja 15 tahun. Hmmmm…. 20 years ago. And I still remember that time just like happen on yesterday.
The precious moment lain adalah saat aku mendapat tawaran bekerja full time di Majalah BAHANA, sebuah media aku selama ini hanya menjadi koresponden jarak jauh. Tanggal 1 Mei 1995. Aku masih ingat bagaimana telepon di atas meja kerjaku sebagai staf full time sebuah lembaga pelayanan — berdering. K’ Xavier menanyakan apakah aku sudah lulus dan bersedia bergabung dengan BAHANA as a full timer? Wow…. Doaku untuk stay di dunia media terjawab sudah.
Papa berhenti merokok. Tgl 15 Juli 1997, telepon di kantor berdering dan suara Mama di ujung sana. "Selamat ulang tahun," katanya. "Dan, papamu juga sudah berhenti merokok karena dijamah Tuhan." Do you thing that will be my precious moment? Yes of course….
Next…..
(to be continued)