funky_manna


Yogyakarta
June 28, 2007, 8:29 am
Filed under: Travel

Kamis, 28 Juni 2007

Pk.13.10 WIB. Kereta Sancaka bersandar tenang di Stasiun Tugu. Aku melangkahkan kaki keluar gerbong eksekutif 2. Well, Yogya… here I come. Masih kuingat beberapa jam lalu, aku masih di stasiun Gubeng Surabaya dan menaiki kereta diiringi lagu Yogyakarta yang disenandungkan oleh KLa Project.

Tak ragu, aku mengayun langkah ke luar stasiun dan bergegas mencari tumpangan menuju Wisma Syantikara. Yup, aku akan mengikuti lokakarya penerbitan buku selama dua hari ini. All the best for me… hehehehe…

dalam perjalanan, aku menikmati Yogyakarta. Tak banyak yang berubah. Hanya Kali Code sedikit berubah wajah. Ada sebuah bangunan yang ada di atas lembah Kali Code, tempat almarhum Romo Mangun menggetas mimpi bagi anak-anak yang tak mampu sekolah di gedung mentereng.

Selebihnya tak ada yang berubah. Gedung Gramedia pun masih megah meski sempat terguncang gempa bumi Mei 2006 lalu.

Yogyakarta…. sebuah kenangan bersemi lagi…

I will enjoy my days in Yogyakarta….

Yogyakarta: 22.30 WIB



Start the Journey
June 19, 2007, 5:04 am
Filed under: Uncategorized

Pertengahan tahun 2006, saya dibawa dalam sebuah perjalanan yang cukup jauh. Ke Eropa. Ketika menginjakkan kaki di Bandara Schiphol,

Amsterdam

, diam-diam saya merasa tersanjung. ”Tuhan, saya berada di negeri asing. Di antara orang-orang asing.” Mungkin bagi Anda yang sering bepergian ke luar negeri, apa yang saya rasakan ini terasa aneh. Tapi, saya benar-benar takjub mendapati diri saya berada lebih dari 11 ribu kilometer jauhnya dari rumah. Wow… Tiba-tiba saya merasa takut karena saya ternyata belum dijemput dan saya tak bisa berbahasa Belanda.

Sementara itu, Roh Kudus berbisik lembut, dan mengingatkan sesungguhnya saya memang berada ‘jauh’ dari rumah Bapa – tempat saya yang sebenarnya. Jika saya takut itu pun wajar, karena di dalam dunia ada pelbagai hal yang dapat membuat kita terpuruk. Namun, sama halnya ketika saya memulai perjalanan ke Eropa bersama Tuhan, kita pun perlu menjalani kehidupan di dunia bersama Tuhan. Apa Anda juga sedang memulai perjalanan hari ini? Mulailah bersama Tuhan. Perjalanan kita pasti aman.



Writing Revolution
June 19, 2007, 4:58 am
Filed under: Uncategorized

Sebutkan cita-cita kamu sejak kecil? Dokter? Insinyur? Pilot? Penyanyi? Arsitek? Mungkin ada beberapa profesi lagi yang telah kita impikan sejak kecil. Tapi adakah di antara kita yang bercita-cita menjadi penulis? Penulis? Profesi apa itu? Emang ada pekerjaan penulis? Koq gak populer ya? Gak pernah tau tuh kalo ada orang yang bekerja jadi penulis? Hehehe…

Penulis emang bukan sebuah pekerjaan yang mendatang popularitas dengan cepat. Bukan juga pekerjaan yang mendatangkan kekayaan dalam sekejap mata. Lebih parah lagi, penulis bukan pekerjaan yang ’punya kelas’ alias gak bergengsi. Getu deh. Tapi tunggu dulu. Itu semua adalah pandangan yang umum terjadi di Indonesia. Sebaliknya, di negara-negara maju, profesi penulis justru merupakan profesi yang dengan cepat mendatangkan ketenaran, penghasilan serta punya kelas sosial tersendiri. Nah, koq kebalik getu napa ya? Alasan secara detail sih belum bisa dijelaskan, ya. Tapi yang pasti, budaya baca di negara kita terbilang cukup rendah. Makanya, ya gak banyak yang beli buku. Nah, kalo bukunya gak dibeli, mana bisa penulisnya ngetop? Mana mungkin penulisnya punya duit? Dan, apa mungkin ada orang tahu kalo penulis adalah sebuah profesi yang sama bergengsinya kayak dokter, pengacara dan insinyur? Hehehehe…. Well, kita gak lagi bicara tentang membaca. Sekarang ini, kita sedang bicara tentang menulis.

Mengapa kita perlu menulis? Jawabannya sederhana! Karena Tuhan ingin kita menulis. Dari mana tahu kalo Tuhan ingin kita menulis? Lebih sederhana lagi jawabnya. Buktinya ada firman Tuhan yang merupakan kumpulan catatan atau surat dari para nabi dan para rasul. Nah, catatan atau surat itu pasti ditulis, bukan direkam.

Zaman dulu mana ada tape recorder atau voice recorder? Yang bener aja dunkz! Tuhan ingin para nabi dan para rasul-Nya mencatat semua yang difirmankan-Nya, semua kejadian dan peristiwa yang telah ada agar semua hal itu menjadi panutan yang tak boleh diabaikan oleh kita sebagai umat Allah.

Kalo gak ada catatan dan surat-surat itu, gak bakal jadi Kitab Suci, deh. Kalo gak ada yang mau nulis semua kisah tentang Tuhan Yesus, gak bakal ada yang tahu apa saja yang udah Dia kerjakan selama di muka bumi. Tanpa catatan pekerjaan Tuhan Yesus, apakah kita saat ini akan percaya bahwa Tuhan Yesus pernah ada di dunia dan melakukan perkara yang dahsyat hingga Ia harus mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib? Maybe yes. Maybe no. Tapi dengan adanya catatan yang terdokumentasi, kita tidak akan kehilangan detail kisah dahsyat yang telah dilakukan Tuhan; tidak hanya pada masa Yesus saja, tetapi juga pada masa Abraham, Yusuf, Musa, Daud, Daniel, dan sebagainya. Itu bicara tentang masa lalu.

Bagaimana halnya dengan masa depan? Dengan menulis kita dapat memberikan catatan tentang hari ini yang dapat berguna pada generasi kita selanjutnya. Lebih heboh lagi, kita dapat mewariskan visi yang telah diletakkan Tuhan dalam hati kita kepada generasi penerus. Mungkin kita telah mati dan berkalang tanah, tetapi visi yang telah ditulis menjadi catatan sejarah yang akan terus hidup dan melangkah. Seharusnya menulis tidak sekadar menjadi keinginan segelintir orang saja. Semua orang perlu dan wajib menulis. Mengapa? Tiap orang memiliki visi besar yang Tuhan tanamkan dalam hatinya. Biarkan visi itu terus menyala, mengalir dan hidup dalam hati semua orang yang telah mengenal kita.

Dengan menulis, kita akan berperan serta dalam menghidupkan kemajuan bangsa ini. Kita turut meletakkan Indonesia sebagai bangsa yang penuh potensi dan mulia. Intelektual bangsa dipertaruhkan ketika kita mulai belajar untuk meletakkan konsep dan semangat kita melalui sebuah tulisan.

Sobat muda! Saatnya bagi kita untuk merevolusi cara berpikir kita tentang menulis. Maju atau tidaknya bangsa ini, semua terletak pada pundak kita. Dengan menulis, kita akan membawa bangsa ini pada puncak kemenangan sebagai bangsa yang maju, berintelektual tinggi, dan tentunya juga berakhlak dan berintegritas. Selamat menulis!!!!



Precious Moment part 2
June 19, 2007, 4:51 am
Filed under: Uncategorized

Berangkat ke Papua pada 20 Februari 1996 adalah kesempatan terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Bukan sekadar untuk berwisata. Aku bertualang. Aku makin hidup. Aku makin menyadari betapa kecil dan hampanya diriku.

Bertemu dengan orang-orang ‘luar biasa’ seperti Suster Jennie yang telah 16 tahun berada di pedalama Korupun, Wamena atau Uskup Muninghoff, si Jerman yang milih mati di Papua. Ada Pak Wenas, Bupati Wamena juga alm. Mbak Yuli yang menjadi guru TK di Nabire.

Menyaksikan keindahan alam Sentani sampai di pedalaman Wamena. Menikmati kedamaian pantai di Nabire dan nyaman berada di antara keluarga Huwae di Abepura. Wow… Dalam hal ini aku gak bisa berhenti bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih pada Ayah Daniel Alexander dan papa mama yang udah mengizinkan aku berangkat meski mulanya mereka khawatir karena tanggal 17 Februari 1996, Biak baru saja diterjang gempa tektonik.

Th. 2001 aku dapat kesempatan istimewa untuk bertolak ke Singapore. Haggai Institute Advansing Leadership memberangkatkan aku untuk mengikuti pelatihan internasional. Wah aku bangga sekali. Pasalnya, aku adalah peserta termuda hehehe…

Th. 2002 kesempatan luar biasa kembali hadir. Aku gabung dengan UK Petra. Aku gak pernah kebayang ngajar di Petra. Aku hanya tahu satu hal… Tuhan memberikan waktu-waktu istimewa bagiku agar aku menyadari Dia selalu ada, Dia gak pernah tertidur, Dia selalu memperhatikan aku…

Tiap orang pasti punya saat-saat istimewanya sendiri. Tiap orang punya waktu berharganya sendiri. Dan, Tuhan ngasih waktu-waktu berharga agar kita menyadari betapa berharganya kita bagi Dia.