Filed under: Travel
Tadi, pas kelas sedang tugas observasi ke pameran foto jurnalistik Harian Kompas, Fekie — seorang mahasiswaku — nanya, "Ibu suka traveling?"
Aku senyum (senyum bijak… yg gak setuju boleh complain hehehehe) dan jawab, "Sangat suka."
Dan, saya sempat katakan bahwa Papua adalah tempat favorit saya. Januari 2008, jika Tuhan izinkan (artinya ada dana hehehe), saya akan ke Papua lagi.
Tuhan telah mengirimkan aku ke beberapa tempat. Ini sebuah mukjizat. Ini sebuah anugerah. Ini sebuah kesempatan besar. Bagi aku, traveling bukan sekadar kesempatan atau waktu luang. Ini adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Jika satu kali aku masih diizinkan pergi lagi, aku percaya Tuhan ingin aku melakukan sesuatu.
Di Papua (1996) aku melihat banyak hal baru yang tak pernah kulihat di Surabaya atau Jawa. Babi berkeliaran di sekeliling langkahku. Tubuh legam, rambut ikal, senyum manis dan gigi putih menyapa serentak ke arah rona wajahku (yg cute kalo lagi tersenyum…. ini bukan narsis… ini kata beberapa mahasiswaku, lho ya… gak percaya? Tanya Helen, anak 2006 itu hehehehe).
Perahu kecil membawa raga dan batinku melintas Danau Sentani menuju satu pulau kecil yang aku lupa namanya. Jantungku nyaris berhenti tatkala sayap pesawat Cessna yang kutumpangi nyaris menyentuh gagahnya tebing di Korupun, Wamena. Dan, aku jumpa Bupati Wamena yang mengantarku pulang ke tempat penginapan seusai wawancara. Hmmmm… sebuah perlakuan spesial, ya… Aku tidak diantar ajudannya. Aku diantar Pak Wenas, Bupati Wamena saat itu.
Pulang dari Papua (1996), aku mendapat banyak inspirasi baru dan semua itu kuhadirkan melalui tulisan-tulisanku…. I was very excited that time.
Traveling bagi seorang jurnalis bukan hanya tugas untuk liputan tetapi juga pengembangan wawasan, kedewasaan pribadi dan memahami kehendak Tuhan semakin dalam.
Ibu suka traveling? Yup…. selalu ada sesuatu yang Tuhan inginkan dalam hidupku dan melalui hidupku melalui setiap perjalanan ini. Lup u, Lord…